Minggu, 09 Mei 2010

Machine Troubleshooting Dump Truck & Motor Grader

I. MACHINE INSPECTION PROGRAM
Maksud , Tujuan dan prosedur Measurement (Inspection)

1. Engine speed (Rpm)
Mengetahui speed engine saat low idle dan high idle, untuk memastikan Fuel throttle lever linkage (GD825) atau Throttle pedal (electrical throttle system HD785-5) kondisinya normal. Sedangkan untuk mengetahui power engine, pengukuran dilakukan dengan stall speed.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Memastikan fuel throttle lever dapat diposisikan pada stopper Low dan High
- Hidupkan engine dan ukur speed saat low dan high.
2. Compression pressure (kg/cm2)
Mengetahui tingkat keausan pada liner dan ring piston, atau kondisi valve guide / steam.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : + 60oC
- Cracking rpm : 150 – 250 rpm (untuk memastikan tercapai, pasang tachometer)
- Pastikan Intake system kondisinya bagus (tidak terjadi kebuntuan)
- Valve clearance: standart
- Lepas nozzle atau injector, dan pasang adapter (nozzle palsu), sambungkan dengan pressure gauge.
- Tutup fuel line, posisikan shut-off agar tidak terjadi fuel injection.
- Putar (crangking) engine dengan tenaga battery saja (engine tidak hidup) dan ukur compression pressure. Lakukan 3-4 kali, ambil nilai rata rata.
- Agar battery lebih tahan lama, buka semua nozzle atau injector.
3. Blow by pressure (mmH2O, mmAq)
Untuk mengetahui tingkat keausan pada liner dan ring piston (bebocoran pressure dari ruang bakar)
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Memastikan pedal throttle lingkage & lever throttle FIP dapat diposisikan pada stopper High.
- Check fuel dan air system kondisinya normal.
- Pasang Blow-by adapter dan sambungkan dengan pressure gauge
- Hidupkan engine, posisikan high idle (jika memungkinkan berikan load maksimal , ukur
saat unit operasi), kemudian ukur pressure blow by.
Untuk memastikan blowby merupakan indikasi terjadinya kebocoran pressure dari ruang bakar, maka harus didukung data pendukung sebagai berikut.
- Pressure blow-by diatas standart / permissible
- Warna blow-by cenderung putih kebiru – biruan sebagai indikasi adanya oli yang terbakar.
- Oil consumption tinggi
- Hasil PAP (silicon- debu, metal wear)
- Trend analysis blowby-pressure
4. Oil pressure (kg/cm2)
Memastikan pressure oli yang digunakan untuk system lubricating engine sesuai standart, sehingga tidak terjadi keausan abnormal.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Oil level dalam range Low-High
- Tidak terjadi oil leakage
- Pasang nipple dan sambungkan dengan pressure gauge.
- Hidupkan engine, ukur pressure saat engine low idle dan high idle.
5. Intake resistant (mmH20)
Untuk mengetahui tingkat kebuntuan air cleaner dan juga sebagai indikasi kemampuan hisap piston.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Tidak terjadi kebocoran pada intake system
- Pasang nipple measurement dan sambungkan dengan pressure gauge
- Hidupkan engine, ukur intake resistance dengan stall speed.
6. Exhaust temperature (oC)
Untuk mengetahui tingkat kwalitas pembakaran, yang ditentukan oleh perbandingan udara yang masuk dengan fuel yang diinjeksikan.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Check fuel dan air system kondisinya normal.
- Pasang temperature sensor dan sambungkan dengan thermometer
- Hidupkan engine, ukur exhaust temperature dengan stall speed (akan lebih actual jika pengukuran dilakukan selama unit operasi).
7. Exhaust gas color (Bosch Index)
Untuk mengetahui tingkat kwalitas pembakaran, dan tingkat kebocoran oli kedalam ruang bakar (melalui valve steam dan ring piston).
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Check fuel dan air system kondisinya normal.
- Hidupkan engine, masukkan suction port Smoke checker kedalam muffler (exhaust pipe) dan hisap (tarik handlenya) saat engine diakselerasikan.
- Bandingkan hasil hisapan gas buang yang terdapat pada filter paper dengan table standart
8. Valve clearance
Untuk mengetahui dan memastikan kerengangan valve (intake dan exhaust) sesuai standard, karena clearance valve menentukan valve timing dan total valve stroke (total jumlah udara yang masuk dan exhaust gas yang keluar), sehingga sangat berpengaruh terhadap tenaga engine.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : + 60oC (atau tergantung standart factory : Cold / Hot)
- Posisikan cylinder yang akan diadjust pada TDC compression
- Masukkan feeler gauge (sesuai standart clearance) diantara rocker arm dan crosshead, putar adjustment screw sampai feeler gauge terasa sliding saat digerakkan.
- Adjustment valve clearance dapat dilakukan per Cylinder atau dengan metode dua kali putar.
9. Oil temperature
Untuk mengetahui dan memastikan temperature oli dalam range kerja, karena temperature sangat berpengaruh terhadap viskositas oli yang dapat mempercepat keausan komponen.
Prosedur
- Radiator coolant temperature : 70-90o (temperature kerja)
- Oil level dalam range Low-High
- Masukkan Fluid temperature sensor melalui oil filler jika memungkinkan, atau pasang elbow (terdapat dalam thermometer kits) pada main gallery dan masukkan Fluid temperature sensor untuk mengukur temperature oli.
10. Fuel Injection timing (FIP)
Untuk mengetahui dan memastikan Start of Injection, karena sangat menentukan tenaga engine dan untuk mencegah terjadinya knocking atau detonation.
- Prosedur (Delivery method)
- Putar dan posisikan Cylinder no.1 pada TDC Compression kemudian tepatkan mark IJ (start injection) pada front damper atau flywheel dengan pointer.
- Lepas delivery valve No. 1 dan kendorkan bolt coupling FIP
- Pompakan feed pump sambil menggerakkan drive shaft FIP, perhatikan saat fuel berhenti mengalir dari lubang delivery valve No.1, maka berarti timing injection sudah tepat.
Prosedur Mark alignment method
- Putar dan posisikan Cylinder no.1 pada TDC Compression kemudian tepatkan mark IJ (start injection) pada front damper atau flywheel dengan pointer.
- Posisikan mark (tanda) drive shaft dengan housing FIP saling segaris atau sejajar.
Untuk HPI Engine ; dapat langsung menggunakan monitoring system dalam special function of monitor panel
11. Radiator pressure valve
Untuk mengetahui pressure maksimal didalam cooling system, sehingga tidak terjadi over pressure yang dapat menyebabkan kebocoran (hose, clamp, core radiator dsb) dan mencegah air didalam radiator dapat mendidih, jika pressurenya terlalu rendah, sehingga tidak terjadi cavitasi pada komponen (liner).
- Gunakan radiator cap tester.
12. Fan belt tension
Untuk memastikan fan dapat berputar dengan kecepatan sesuai putaran engine (tidak terjadi slip), sehingga hisapan atau hembusan angin untuk mendinginkan air radiator dapat maksimal. Tension belt yang standart juga akan mencegah terjadi kerusakan belt lebih cepat.
Prosedur
- Tekan belt dengan menggunakan push-pull scale dengan tekanan sesuai standart.
- Ukur penyimpangan (deflection) belt
13. Oil consumption ratio
Untuk mengetahui jumlah penambahan oli yang disebabkan adanya oli yang masuk ke dalam ruang bakar melalui ring piston atau valve steam, sehingga ikut terbakar. Pengukuran perbandingan berdasarkan jumlah penambahan oli dengan jumlah bahan bakar (fuel) yang digunakan.

NOTE :
Semua item measurement dibawah harus dilakukan sesuai dengan kondisi dan syarat measurement, dengan prosedur seperti dalam shop manual, agar didapatkan data actual yang dapat digunakan analisa performance unit yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dump Truck
1. Torque converter stall speed
Pada dasarnya dilakukan untuk mengetahui kemampuan torque converter dalam menyalurkan tenaga engine ke power train. Sebelum melakukan T/C stall, harus melakukan mengecheckan Fuel and Air System engine, yakinkan kondisinya normal.
Jika pada akhirnya digunakan sebagai salah satu cara untuk mengetahui performance engine saat terpasang diunit, adalah dengan pertimbangan bahwa Performance Torque Converter relative lebih stabil dibandingkan dengan engine dengan membandingkan frekwensi kerusakan antara kedua komponen tersebut. Misal saat unit beroperasi pada medan yang berdebu, maka sejalan dengan kebuntuan Air Cleaner, engine akan mengalami penurunan performance. Sedangkan Torque converter relative jarang sekali mengalami kerusakan atau keabnormalan.



2. Torque conventer inlet pressure
Untuk mengetahui besar pressure oli yang akan masuk kedalam torque converter dan pressure maksimalnya dibatasi oleh T/C relief valve. Pressure oli tersebut berasal dari main relief valve, setelah bekerja untuk membatasi maksimal pressure dalam circuit hydraulic power train. Jika inlet pressure dalam range standart, diharapkan performance T/C juga dalam kondisi standart.
3. Torque conventer outlet pressure
Untuk mengetahui besar pressure oli yang ada didalam torque converter dan pressure maksimalnya ditentukan oil cooler (inner restriction-tingkat kebuntuan), outlet pressure T/C relative lebih rendah daripada inlet pressure T/C. Dapat digunakan sebagai indikasi tingkat internal leakage yang terjadi dalam torque converter dan jika outlet pressure dalam range standart, diharapkan performance T/C juga dalam kondisi standart.
4. Torque converter lock-up pressure
Untuk mengetahui besar pressure yang digunakan untuk mengengagedkan lock-up clutch, besar pressure diatur oleh lock-up modulating valve sebesar 16 + 0.5 kg/cm2 (HD), 14 kg/cm2 (DZ), 18,5 kg/cm2 (HM), dimana kenaikan pressurenya diatur secara bertahap sehingga mengurangi kejutan yang terjadi.
5. Transmission main relief pressure
Untuk mengetahui maksimal pressure dalam system control transmission, yang digunakan untuk mengengagedkan clutch, sehingga system dapat berfungsi normal. Pressure maksimal dibatasi oleh main relief valve, dimana saat relief pressure tercapai, akan membebaskan flow discharge menuju torque converter (sisi inlet). Dengan kata lain torque converter tidak akan bekerja (torque off), saat flow discharge pump dialirkan dan digunakan untuk mengengagedkan clutch pack transmission.
6. ECMV hydraulic pressure
Pengukuran dilakukan menggunakan shift modulating checker, sehingga dapat diukur pressure yang digunakan untuk mengengagedkan masing masing clutch secara individual tanpa harus menjalankan unit. Maksimal pressure tidak sama untuk setiap clutch, tetapi sesuai dengan standart pressure masing masing clutch, dimana maksimal pressurenya sesuai dengan Arus perintah (command current) yang diatur kenaikannya secara bertahap oleh shift modulating checker.
7. Transmission lubrication pressure
Untuk memastikan besarnya pressure oli yang digunakan untuk pelumasan inner component transmission, sehingga tidak terjadi keausan abnormal, maksimal pressure lubricating dibatasi oleh lubricating valve.
8. Steering wheel play
Untuk mengetahui gerak bebas steering wheel saat engine mati, sebagai indikasi keausan pada steering shaft spline, U-joint dan gear set steering valve, sehingga responsive steering valve terhadap pergerakan steering wheel dapat dipertahankan.
9. No. of turn steering wheel
Untuk mengetahui jumlah putaran steering wheel saat digunakan untuk menggerakkan steering Lock To Lock (right end stroke – left end stroke) dan dapat digunakan sebagai indikasi besarnya flow discharge pump yang menuju steering cylinder dan diatur oleh steering demand valve berdasarkan pilot pressure (load sensing) dari steering valve.
10. Turning time of steering wheel
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menggerakkan steering Lock To Lock (right end stroke – left end stroke) dan dapat digunakan sebagai indikasi besarnya flow discharge hydraulic pump yang menuju steering cylinder yang diatur oleh steering demand valve berdasarkan pilot pressure dari steering valve.



11. Steering relief pressure
Untuk mengetahui maksimal pressure dalam steering circuit saat mendapat beban berlebihan atau gerakan steering roda tertahan sehingga relief pressure tercapai dan dibatasi oleh relief valve dengan membebaskan sebagian flow discharge pump kembali ke tank. Dapat digunakan sebagai indikasi kemampuan steering system, misalnya saat unit beroperasi pada medan berlumpur, steering tetap dapat digerakkan meskipun unit amblas, sehingga mempermudah unit keluar.
12. Operating force of steering wheel
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk memutar steering wheel, sebagai indikasi kemampuan steering valve berfungsi sebagai motor, jika tidak memungkinkan melakukan pengukuran saat engine mati, lakukan dengan engine low idle dan jalankan unit secara perlahan.
13. Hoist valve relief pressure
Untuk mengetahui operating pressure selama Dump Body digerakkan Raise dan saat cylinder Hoist mencapai end stroke (kick out), sebagai indikasi kemampuan hydraulic system menyerap tenaga engine dan merubahnya menjadi tenaga hydraulis saat digunakan untuk menggerakkan Dump body serta untuk mengetahui maksimal pressure saat relief valve bekerja.
14. Hoist lever operating force
Untuk mengetahui gaya atau tenaga yang diperlukan untuk mengggerakkan Hoist lever dari posisi Hold-Raise-Hold-Float-Lower dan sebaliknya, sebagai indikasi lubricating linkage dan push-pull cable kondisinya normal agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
15. Hoist lever travel
Untuk mengetahui panjang langkah pergerakan Hoist lever, saat digerakkan dari posisi Hold-Raise-Hold-Float-Lower dan sebaliknya, sebagai indikasi ketepatan adjustment linkage, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
16. Lifting speed of body
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menaikkan Dump body dari posisi seating sampai dump body Kick-out, sebagai indikasi banyaknya flow discharge yang dialirkan menuju sisi bottom hoist cylinder dan dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan hydraulic pump dan kerja demand valve.
17. Lowering speed of body
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menurunkan Dump body dari posisi kick-out sampai dump body posisi seating, sebagai indikasi kerja slow return valve untuk menghambat oli dari sisi bottom hoist cylinder yang akan kembali ke tank, sehingga gerakan turun dump body dapat lebih smooth dan mencegah terjadinya kevakuman pada sisi head hoist cylinder.
18. Hydraulic drift of body
Untuk mengetahui kecepatan penurunan dump body pada saat posisi menggantung dan lever control posisi Hold sehingga berat dump body ditahan sepenuhnya oleh cylinder, sebagai indikasi tingkat kebocoran (internal leakage) pada seal piston hoist cylinder atau hoist control valve.
19. Air governer set pressure
Untuk mengetahui cut-in pressure dan cut-out pressure, sehingga dapat dipastikan pressure angin yang dibutuhkan dalam system dapat dipertahankan dalam range kerja standart.
Cut-out pressure :
Batas pressure maksimal dalam wet tank, dimana governor valve bekerja untuk mengalirkan pilot pressure menuju Unloader valve, untuk menekan inlet valve selalu terbuka, sehingga compressor tidak dapat menghasilkan langkah compressi (Unload condition), dengan demikian pressure angin dalam system tidak dapat naik lebih tinggi.


Cut-in pressure :
Batas pressure minimal dalam wet tank, dimana governor valve kembali tertutup dan pilot pressure penggerak Unloader valve dibuang ke udara luar, sehingga inlet valve dapat bekerja normal dan compressor kembali bekerja (Load condition) untuk menghasilkan supply angin ke dalam system, sehingga pressure dalam system dapat dinaikkan kembali
20. Service braking distance
Untuk mengetahui kemampuan service brake system saat dioperasikan secara mendadak pada kecepatan travel tertentu (32 km/h) dengan mengukur jarak efek pengereman dari titik brake pedal diinjak penuh sampai unit berhenti, dapat digunakan sebagai indikasi respon brake system secara menyeluruh (pressure, wear disc clutch) dan kondisi roda.
21. Retarder brake braking distance
Untuk mengetahui kemampuan retarder brake system saat dioperasikan secara mendadak pada kecepatan travel tertentu (32 km/h) dengan mengukur jarak efek pengereman dari titik lever retarder ditarik penuh sampai unit berhenti, dapat digunakan sebagai indikasi respon retarder brake system secara menyeluruh (pressure, wear disc clutch) dan kondisi roda.
22. Brake actuating pressure
Untuk mengetahui maksimum pressure yang digunakan untuk mengengagedkan rear brake clutch dan front brake disc pads, sebagai indikasi kemampuan hydropneumatic system menghasilkan pressure oli untuk menimbulkan braking force.
23. Stopping distance when emergency brake is applied
Untuk mengetahui kemampuan emergeny brake system saat dioperasikan secara mendadak pada kecepatan travel tertentu (32 km/h) dengan mengukur jarak efek pengereman dari titik lever retarder ditarik penuh sampai unit berhenti, dapat digunakan sebagai indikasi respon retarder brake system secara menyeluruh (pressure, wear disc clutch) dan kondisi roda.
Note :
Pengukuran starting speed dibawah dapat dilakukan karena adanya torque converter dalam system power train dan diukur berdasarkan speed engine pada saat unit mulai bisa bergerak.
24. Braking performance of service brake (starting test)
Untuk mengetahui kemampuan rear dan front brake secara bersamaan saat kedua brake dibebani oleh tenaga engine, jika tenaga engine lebih besar dari braking force pada kedua brake, maka brake akan slip dan roda masih bisa berputar.
25. Braking performance of retarder brake (starting test)
Untuk mengetahui kemampuan rear brake saat dibebani oleh tenaga engine, karena tenaga engine lebih besar dari braking force rear brake, maka brake akan slip dan roda masih bisa berputar.
26. Braking performance of emergency brake (starting test)
Untuk mengetahui kemampuan rear, front dan parking brake secara bersamaan saat ketiga brake dibebani oleh tenaga engine, jika tenaga engine lebih besar dari friction force ketiga brake, maka brake akan terjadi slip dan roda masih bisa berputar.
27. Braking performance of parking brake (starting test)
Untuk mengetahui kemampuan parking brake saat dibebani oleh tenaga engine, jika tenaga engine lebih besar dari braking force parking brake, maka brake akan terjadi slip dan roda masih bisa berputar.
28. Brake pedal operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menggerakkan brake pedal, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi mechanism inner part brake valve kondisinya normal, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.




29. Brake pedal travel
Untuk mengetahui panjang langkah pergerakan brake pedal, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi tingkat keausan mechanism brake valve dan ketepatan adjustment, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
30. Retarder control lever operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menarik retarder lever, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi mechanism retarder valve kondisinya normal, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
31. Retarder control lever travel
Untuk mengetahui panjang langkah pergerakan retarder lever, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi ketepatan adjustment linkage, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
32. Parking brake lever operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menarik parking brake lever, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi mechanism retarder valve kondisinya normal, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
33. Emergency brake operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menarik emergency brake lever, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi mechanism emergency valve kondisinya normal, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
35. Suspension cylinder pressure
Untuk mengetahui besarnya pressure dalam cylinder suspension pada saat unit tanpa muatan, sebagai indikasi kemampuan suspension meredam kejutan yang terjadi.
36. Suspension cylinder installed lenght
Untuk mengetahui panjang rod suspension terpasang saat unit tanpa muatan, sebagai indikasi kemampuan suspension mempertahankan ketinggian chasis (ground clearance) saat unit bermuatan atau saat mendapat beban kejutan dari permukaan jalan yang tidak rata.

Motor Grader
1. Transmission pilot pressure
Untuk mengetahui besar pilot pressure penggerak clutch spool transmission sehingga dapat mengarahkan flow discharge pump menuju clutch, besar pilot pressure cenderung konstan, tidak dipengaruhi oleh rpm engine dan diatur / dibatasi oleh pilot reducing valve.
2. Transmission lubrication pressure
Untuk memastikan besarnya pressure oli yang digunakan untuk pelumasan inner component transmission, sehingga tidak terjadi keausan abnormal, maksimal pressure lubricating dibatasi oleh lubricating valve.
3. Transmission main relief pressure
Untuk mengetahui maksimal pressure dalam system control transmission yang digunakan untuk mengengagedkan clutch, sehingga system dapat berfungsi normal. Besar pressure diatur oleh main relief valve, dimana saat relief pressure tercapai, flow discharge pump akan dikembalikan ke tank melalui port drain main relief valve.
4. Transmission inching pressure
Untuk mengetahui besarnya pressure yang digunakan untuk mengengagedkan clutch Forward atau Reverse, pressure clutch akan dihilangkan atau dihubungkan dengan circuit drain saat inching pedal diinjak. Dapat digunakan sebagai indikasi ketepatan adjustment linkage & rod mekanisme pedal inching, sehingga saat gear shifting dapat dilakukan dengan smooth dan tidak terjadi slippage pada clutch Forward atau Reverse.



5. Transmission slipping
Untuk mengetahui tingkat slippage yang terjadi pada masing masing clutch, sehingga terlebih dahulu diukur modulating pressure dan modulating time masing masing clutch, untuk memastikan clutch dapat full engaged. Transmission slipping dapat digunakan sebagai indikasi keausan disc-plate clutch pack transmission.
6. Differential locking device oil pressure
Untuk mengetahi besarnya pressure yang digunakan untuk mengengagedkan differential lock clutch, dimana maksimal pressurenya dibatasi oleh relief valve (25 kg/cm2). Dapat digunakan sebagai indikasi kemampuan clutch differential lock menyamakan putaran kedua sisi roda meskipun terjadi perbedaan yang besar pada kedua sisi roda.
7. Transmission gear shift lever travel
Untuk mengetahui panjang langkah pergerakan directional lever, saat digerakkan dari posisi P - N – F1 – F2 – F3 - F4 – F5 – F6 – F7 – F8, P - N – R1 – R2 – R3 - R4 – R5 – R6 – R7 – R8 sebagai indikasi ketepatan adjustment rotary switch atau potentiometer lingkage & ball detent, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
8. Transmission gear shift lever operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menggerakkan directional lever, saat digerakkan dari posisi P - N – F1 – F2 – F3 - F4 – F5 – F6 – F7 – F8, P - N – R1 – R2 – R3 - R4 – R5 – R6 – R7 – R8, sebagai indikasi ketepatan adjustment dan rotary switch atau potentiometer lingkage & ball detent, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
9. Height of inching pedal
Untuk mengetahui ketinggian inching pedal pada saat pedal tidak diinjak, sebagai indikasi ketepatan adjustment linkage & rod mekanisme pedal inching, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
10. Play of inching pedal
Untuk mengetahui gerak bebas inching pedal pada saat tidak diinjak, sebagai indikasi respon pergerakan inching valve yang dipengaruhi oleh keausan yang terjadi pada mechanism rod & lingkage, dan jika memungkinkan masih dapat dilakukan adjustment agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
11. Travel of inching pedal
Untuk mengetahui panjang langkah efektik pergerakan inching pedal pada saat pedal diinjak, sebagai indikasi ketepatan adjustment linkage & rod mekanisme pedal inching, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
12. Operating force of inching pedal
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menginjak inching pedal, sebagai indikasi lubricating, kondisi tension return spring serta ketepatan adjustment linkage & rod mekanisme pedal inching, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
13. Priority flow devider valve
Untuk mengetahui operating pressure selama steering wheel digerakkan dan maksimal pressure pada steering circuit saat cylinder steering mencapai end stroke, sebagai indikasi kemampuan hydraulic system menyerap tenaga engine dan merubahnya menjadi tenaga hydraulis saat mendapat beban normal dan maksimal.
14. Steering wheel turning angle (Lock to lock)
Untuk mengetahui total sudut belok front wheel saat steering cylinder diposisikan sampai end stroke pada kedua arah, sebagai indikasi kemampuan maksimal unit melakukan belokan untuk mendapatkan minimal turning radius.




15. Steering wheel play
Untuk mengetahui gerak bebas steering wheel saat engine mati, sebagai indikasi keausan pada steering shaft spline, U-joint dan gear set steering valve, sehingga responsive steering valve terhadap pergerakan steering wheel dapat dipertahankan.
16. Leaning lever travel
Untuk mengetahui panjang langkah leaning lever saat digerakkan dari posisi Hold – RH leaning dan Hold – LH leaning, sebagai indikasi ketepatan adjustment mekanisme linkage & rod lever leaning, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
17. Articulation lever travel
Untuk mengetahui panjang langkah articulation lever saat digerakkan dari posisi Hold – RH articulated dan Hold – LH articulated, sebagai indikasi ketepatan adjustment mekanisme linkage & rod lever articulation, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
18. Steering wheel operating force (turning direction)
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk memutar steering wheel, sebagai indikasi kemampuan steering valve berfungsi sebagai motor, jika tidak memungkinkan melakukan pengukuran saat engine mati, lakukan dengan engine low idle dan jalankan unit secara perlahan.
19. Leaning lever operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menarik atau menekan leaning lever saat digerakkan dari posisi Hold – RH leaning dan Hold – LH leaning, sebagai indikasi lubricating linkage & rod serta inner part Leaning control valve kondisinya normal dan ketepatan adjustment mekanisme linkage & rod lever leaning, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
20. Articulation lever operating force
Untuk mengetahui yang diperlukan untuk menarik atau menekan articulation lever saat digerakkan dari posisi Hold – RH articulated dan Hold – LH articulated, sebagai indikasi lubricating linkage & rod serta inner part Articulation control valve kondisinya normal dan ketepatan adjustment mekanisme linkage & rod lever articulation, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
21. Tire runout
Untuk mengetahui besarnya penyimpangan putaran roda depan dan belakang sebagai indikasi kondisi axle bearing dan ketepatan adjustment clearance kedua cone bearingnya.
22. Tire inflation pressure
Untuk mengetahui pressure angin didalam ban saat terpasang pada unit dan dapat digunakan sebagai indikasi kemampuan roda untuk meredam kejutan yang timbul dari permukaan jalan yang tidak rata.
23. Camber of wheel
Untuk mengetahui sudut kemiringan roda terhadap sumbu vertical dan diukur dari arah depan atau belakang, sebagai indikasi kemampuan roda depan mendapatkan bidang tumpuan yang flexible terhadap permukaan tanah, sehingga roda depan mudah dikendalikan (saat belok) serta kelurusan arah travel dapat dipertahankan.
24. Toe in of wheel
Untuk mengetahui perbedaan jarak antara garis tengah roda depan kanan dan kiri, diukur pada bagian depan dengan bagian belakang (saat dilihat dari atas), dimana bagian depan harus lebih sempit dibandingkan bagian depan, sebagai indikasi kemudahaan roda depan dikendalikan saat dibelokkan dan mencegah terjadinya keausan abnormal roda dengan menghilangkan kemungkinan terseretnya ke salah satu sisi saat roda depan dibelokkan.




25. Leaning angle of wheel
Untuk mengetahui sudut kemiringan roda saat dipossisikan full leaning ke dua sisi, kanan dan kiri, dapat digunakan sebagai indikasi kemampuan mendapatkan ground pressure yang seimbang dengan beban blade saat operasi grading miring, sehingga arah jalan unit dapat tetap dipertahankan kelurusannya, karena kedua roda depan tidak cenderung terseret ke satu sisi.
26. Brake performance
Untuk mengetahui kemampuan brake system saat dioperasikan secara mendadak pada kecepatan travel tertentu (32 km/h) dengan mengukur jarak efek pengereman dari brake pedal diinjak penuh sampai titik dimana unit berhenti, dapat digunakan sebagai indikasi respon brake system secara menyeluruh (air pressure, wear disc clutch) dan kondisi roda.
27. Parking brake performance
Untuk mengetahui kemampuan parking brake saat diaktifkan untuk mencegah pergerakan unit yang tidak diinginkan saat unit sedang parker, sebagai indikasi ketepatan adjustment brake disc-pad clearance.
28. Brake pedal operating force
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menggerakkan brake pedal, saat digerakkan dari posisi Release – Brake, sebagai indikasi mechanism inner part brake valve kondisinya normal, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
29. Main relief valve set pressure LH control valve
Untuk mengetahui maksimum pressure saat salah satu attachment yang berada pada Lh control valve diposisikan end stroke, sebagai indikasi kemampuan hydraulic system menyerap tenaga engine dan merubahnya menjadi tenaga hydraulis saat mendapat beban maksimal.
30. Main relief valve set pressure RH control valve
Untuk mengetahui maksimum pressure saat salah satu attachment yang berada pada Rh control valve diposisikan end stroke, sebagai indikasi kemampuan hydraulic system menyerap tenaga engine dan merubahnya menjadi tenaga hydraulis saat mendapat beban maksimal.
31. Control lever travel for Blade lifting Lh & Rh right, Blade side shifting, Drawbar side shifting
Circle rotation, Power tilt, Ripper
Untuk mengetahui panjang langkah masing masing control lever pada saat digerakkan dari posisi Hold - Operating, sebagai indikasi ketepatan adjustment mekanisme linkage & rod lever leaning, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
32. Control lever operating force for Blade lifting Lh & Rh right, Blade side shifting, Drawbar side shifting Circle rotation, Power tilt, Ripper
Untuk mengetahui gaya yang diperlukan untuk menarik atau menekan masing masing control lever pada saat digerakkan dari posisi Hold - Operating, sebagai indikasi lubricating linkage & rod serta inner part control valve kondisinya normal dan ketepatan adjustment mekanisme linkage & rod control lever, agar didapatkan kemudahan dan kenyamanan pengoperasian.
33. Blade lifting speed
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menggerakkan blade lift cylinder ke posisi Raise, sebagai indikasi banyaknya flow discharge pump yang dialirkan menuju sisi head ripper cylinder dan dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan hydraulic pump, control valve & pressure compensating valve.
34. Speed of drawbar side cylinder
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menggerakkan drawbar side blade cylinder dari posisi Tilt Rh – Tilt Lh dan sebaliknya, sebagai indikasi banyaknya flow discharge pump yang dialirkan menuju drawbar side blade cylinder dan dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan hydraulic pump, control valve & pressure compensating valve.




35. Speed of sideshift in relation to circle
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menggerakkan side shift blade cylinder dari posisi end stroke Lh – end stroke Rh dan sebaliknya, sebagai indikasi banyaknya flow discharge pump yang dialirkan menuju side shift blade cylinder dan dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan hydraulic pump, control valve & pressure compensating valve.
36. Ripper lifting speed
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk menggerakkan ripper cylinder ke posisi Raise, sebagai indikasi banyaknya flow discharge pump yang dialirkan menuju sisi head ripper cylinder dan dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan hydraulic pump, control valve & pressure compensating valve.
37. Turning speed by circle rotation
Untuk mengetahui waktu yang diperlukan untuk memutar blade arah kanan dan kiri, sebagai indikasi banyaknya flow discharge pump yang dialirkan menuju circle rotation motor dan dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan hydraulic pump, control valve & pressure compensating valve.
38. Hydraulic drift Extention of blade cylinder
Untuk mengetahui kecepatan penurunan blade saat posisi menggantung pada saat engine mati, sebagai indikasi tingkat kebocoran (internal leakage) pada seal piston lift cylinder blade
39. Hydraulic drift Retraction of blade cylinder
.Untuk mengetahui kecepatan penurunan chasis unit saat chasis diangkat bagian depannya dengan lift cylinder posisi lower pada saat engine mati, sebagai indikasi tingkat kebocoran (internal leakage) pada spool dan housing control valve (blade lift spool).
40. Hydraulic drift Extention of ripper cylinder
Untuk mengetahui kecepatan penurunan chasis unit saat chasis diangkat bagian belakangnyanya dengan ripper lift cylinder posisi lower pada saat engine mati, sebagai indikasi tingkat kebocoran (internal leakage) pada spool dan housing control valve (ripper lift spool).
41. Hydraulic drift Retraction of ripper cylinder
Untuk mengetahui kecepatan penurunan ripper saat posisi menggantung pada saat engine mati, sebagai indikasi tingkat kebocoran (internal leakage) pada seal piston lift cylinder ripper.

General (Dump Truck * Motor Grader)
1. Alternator output voltage
Untuk mengetahui besar voltage alternator saat engine hidup, sehingga dapat memastikan terjadinya proses recharging battery selama unit operasi.
Prosedur.
- Hidupkan engine dan posisikan high idle
- Gunakan AVO meter secara paralel, ukur terminal B alternator : 27-5 – 29.5 V.
2. Battery relay
Untuk memastikan battery relay dapat menghubungkan salah satu terminal battery dengan electrical system unit, sehingga battery dapat menjadi power source.
3. Starting Switch
Untuk memastikan starting switch berfungsi untuk memposisikan system unit sesuai putaran starting switch.
- Ukur connectivitas antar terminal sesui posisi / putaran starting switch.
4. Starting motor
Untuk memastikan starting motor dapat bekerja dengan baik saat digunakan untuk memutar (cranking) engine.
5. Solenoid valve
Untuk memastikan solenoid valve dapat bekerja saat Arus perintah mengalir, untuk mengalirkan atau menutup aliran pressure oli. (tergantung type : NC atau NO)
- Ukur nilai resistance solenoid saat dingin dan dalam range temperature operasi.
- Pastikan plunger atau push pin tidak jammed. dsb
6. Sensor
Untuk mengetahui nilai resistance atau kontak kedua terminal (sensor switch).
- Ukur perubahan nilai resistance berdasarkan perubahan pressure atau temperature.
- Ukur connectivitas kedua terminal berdasarkan pressure atau gerakan mechanism. dsb
7. Connector
Untuk mengetahui connectivitas antara male dan female, sehingga dapat memastikan arus listrik dapat mengalir dan system unit dapat berfungsi normal.
- Lakukan pengecheckan visual check < kondisi connector, wiring, seal dsb
- Gunakan multimeter untuk untuk mengukur connectivitas masing masing wiring saat female and female dipasang.

II. MACHINE TROUBLE ANALYSIS
Engine (General)
1. Engine doesn’t start
- Terdapat udara yang terjebak didalam fuel system
- Keabnormalan pada supply pump, shut-off valve
- Cranking rpm tidak tercapai
- Fuel tercampur air, dsb
2. Engine Low Power
- Terjadi kebuntuan pada Air cleaner atau fuel filter
- Injection timing tidak tepat
- Keabnormalan pada supply pump, shut-off valve
- Lingkage thottle atau Current throttle drive kurang maksimal
- Kwalitas fuel jelek : bercampur air, minyak tanah (kerosin) atau kotoran lainnya. dsb
3. Engine doesn't Stop
- Shut-off solenoid valve putus
- O-ring injector sisi fuel return bocor, sehingga masuk ke port metering.
4. Engine Black Smoke
Pada dasarnya disebabkan perbandingan udara masuk lebih sedikit dari fuel yang diinjeksikan, sehingga ada sebagian fuel yang tidak terbakar.
- Air cleaner buntu
- Turbocharger abnormal
- Over fuelling karena keabnormalan pada control fuel system
- Unit beroperasi pada daerah ketinggian, sehingga kerapatan udara luar relatif lebih kecil.
5. Engine White Smoke
- Ujung Injector pecah, sehingga tidak terjadi injection spray.
- Injection Timing tidak tepat.
6. Engine Can't High Idle
- Fuel control dial (potentiometer) abnormal
- Keabnormalan pada ECM
- Misadjustment engine speed sensor. dsb
7. Engine Knocking
- Timing injection terlalu cepat atau lambat
- Terjadi keausan berlebihan pada main bearing
- Adjustment valve clearance tidak tepat. dsb
8. Oil Consumption is excessive
- Keausan pada liner atau ring piston terlalu besar (oil up)
- Keausan pada valve guide terlalu besar (oil down)
- Kerusakan turbocharger, keausan pada bushing atau seal, sehingga oli bocor ke sisi blower atau impeller. dsb.
9. Oil is mixed in coolant
- Terjadi keretakan pada cylinder head atau engine block pada sisi jalur air.
- O-ring liner bocor
- O-ring gasket cylinder head bocor.
- Oil cooler bocor, dsb
10. Oil level rises
Oil level engine dapat naik disebabkan adanya fuel atau air radiator yang bocor dan masuk ke dalam crank case, hal ini dapat disebabkan oleh :
- Keausan Plunger FIP terlalu besar, sehingga fuel bocor ke dalam case FIP
- Nozzle atau injector pecah, sehingga fuel langsung bocor ke ruang bakar dan turun melalui ring piston masuk ke crank case.
- O-ring return port nozzle atau plunger bocor, dsb
- Jika level bertambah tinggi karena bercampur dengan air maka, penyebabnya sama dengan oil engine bercampur air diatas. No 9.
11. Coolant Temperature rises to high
- Core & Fin radiator buntu
- Air radiator kurang
- Thermostat jammed
- Vaccum valve (cap radiator) tidak berfungsi. dsb
- Impeller water pump slip, atau internal leakage terlalu besar, dsb.

Dump Truck
12. Unit tidak bisa bergerak
Pada dasarnya disebabkan putaran engine tidak dapat diteruskan menuju power train, yang dapat disebabkan kerusakan pada Mechanical, Electrical atau Hydraulic system.
- Torque converter slip (contoh hydraulic)
- Propeller shaft output T/C patah (contoh mekanikal)
- Solenoid valve transmission putus (contoh electrical)
13. Unit kehilangan tenaga pada saat travelling
Pada dasarnya dapat disebabkan adanya penurunan performance unit secara total, yang dapat disebabkan kerusakan pada Engine System, Brake System, Electrical system atau Power Train system. Antara lain :
- Engine low power : keabnormalan pada Fuel, Air system atau electrical control engine
- Power train system : keabnormalan pada T/C, T/M slip
- Brake system : Brake clutch jammed
14. Gear shifting berlangsung lambat, Modulating Time lama pada saat perpindahan kecepatan
Pada dasarnya disebabkan flow oli yang menuju clutch T/M, mengalami kekurangan jumlah atau kecepatan alir. Yang antara lain disebabkan oleh :
- Internal leakage transmission pump terlalu besar
- Keabnormalan pada modulating dan quick return valve
- Kebocoran pada seal piston clutch T/M. dsb
15. Tidak bisa pindah speed, Transmisi tidak bisa shift up
Pada dasarnya disebabkan keabnormalan pada system electrical control Transmission.
- Keabnormalan pada Directional lever
- Solenoid valve T/M abnormal
- Disconnect pada wiring harness T/M. dsb
16. Gear shifting mengejut, hentakan besar pada saat unit mulai berjalan atau saat shifting
Pada dasarnya disebabkan kecepatan alir flow oli menuju clutch terlalu cepat
- Quick return jammed tertutup, sehingga initial pressure terlalu tinggi
- Modulating valve jammed terbuka, sehingga high pressure langsung menuju clutch. dsb
17. Torque converter over heat
- Unit selalu dioperasikan overload
- Internal leakage Torque converter terlalu besar
- Outlet pressure T/C terlalu tinggi. dsb
18. Lock-up clutch tidak dapat engaged
- Lock-up solenoid valve putus / jammed
- Lock-up valve jammed tertutup, spring load patah
- Lock-up seal piston bocor. dsb
19. Tekanan oli T/C rendah
- Internal leakage T/C besar
- Setting relief T/C terlalu rendah
- Oil level T/M terlalu rendah
20. Steering wheel tidak bisa berputar atau berat
- Bearing steering shaft jammed
- Steering valve jammed misal terganjal material asing
- Gear set steering valve aus berlebihan sehingga tidak bisa berfungsi sebagai motor.
21. Steering wheel tidak bisa berputar dengan stabil (hentakan besar), Steering wheel bergetar
- Keausan berlebihan pada center hinge (pin & bushing)
- Keausan berlebihan pada pin & bushing steering cylinder
- keausan tidak merata (abnormal) pada inner component steering valve. dsb
22. Unit cederung berbelok kesatu arah pada saat travelling
- Internal leakage pada salah satu port outlet steering valve
- Steering spool jammed pada salah satu posisi steering. dsb
23. Steering wheel kadang - kadang susah diputar
- Keausan tidak merata (abnormal) pada inner component steering valve.
- Bearing steering shaft jammed. dsb
24. Hoist cylinder low power pada saat mengangkat dump body
- Internal leakage hydraulic pump terlalu besar.
- Setting hoist relief valve terlalu rendah
- Internal leakage pada hoist control valve atau hoist cylinder terlalu besar. dsb
25. Hoist cylinder tidak berfungsi
- Hoist relief valve jammed terbuka, sehingga flow discharge langsung kembali ke tank
- Internal leakage pada hoist control valve atau hoist cylinder terlalu besar.
- Push-pull cable hoist leakage jammed atau putus. dsb
26. Hydraulic drift dump body besar
- Internal leakage pada hoist control valve terlalu besar
- Internal leakage hoist cylinder terlalu besar.
27. Front brake hanya bekerja satu sisi
- Salah satu front relay valve abnormal
- Salah satu front chamber brake valve abnormal
- Salah satu seal piston rear brake clutch bocor. dsb
28. Rear brake hanya bekerja satu sisi
- Salah satu rear relay valve abnormal
- Salah satu rear chamber brake valve abnormal
- Salah satu seal piston front disc brake bocor. dsb
29. Tekanan udara tidak bisa naik
- Liner & Piston air compressor aus berlebihan
- Misadjutment cut-out pressure Air governor (terlalu rendah)
- Unloader valve jammed terbuka, sehingga inlet valve compressor selalu terbuka. dsb


30. Brake tidak berfungsi dengan baik
- Internal leakage berlebihan pada brake valve
- Internal leakage berlebihan pada seal piston brake clutch
- Keausan berlebihan pada brake clutch. dsb
31. Service brake tidak bisa release atau jammed
- Spool brake valve jammed terbuka
- Brake clutch disc-plate lengket menjadi satu karena overheat. dsb
32. Parking brake tidak bisa relase atau jammed
- Over adjustment parking brake pads.
- Seal parking spring chamber bocor. dsb
33. Over Stroke Indicator menyala
- Bleeding kurang komplet, sehingga masih terdapat angina dalam brake system
- Kebocoran pada seal piston brake clutch
- Automatic adjuster slack adjuster berfungsi karena terjadi keausan pada brake clutch. dsb
33. Engine tidak bisa start
- Kerusakan pada Starting motor
- Voltage battery drop
- Engine jammed. dsb
34. Engine mati tiba - tiba pada saat traveling
- Keabnormalan pada electrical engine control system
- Strainer fuel tank buntu, sehingga fuel tidak dapat mengalir ke system
- Solenoid valve shut-off valve putus. dsb

Motor Grader
12. Gear shifting terlalu lama
Pada dasarnya disebabkan flow oli yang menuju clutch T/M, mengalami kekurangan jumlah atau kecepatan alir. Yang antara lain disebabkan oleh :
- Internal leakage transmission pump terlalu besar
- Keabnormalan pada modulating dan quick return valve
- Kebocoran pada seal piston clutch T/M. dsb
13. Unit hanya bisa berjalan satu arah saja (maju atau mundur)
- Proximity switch untuk directional electrical control system abnormal
- Directional clutch (forward, reverse) aus berlebihan
- Seal piston forward atau reverse clutch bocor berlebihan. dsb
14. Unit hanya bisa berjalan pada tingkat kecepatan 1st - 4th saja
Pada dasarnya disebabkan clutch Hi tidak dapat engaged, yang dapat dikarenakan :
- Solenoid valve Hi clutch, putus atau jammed tertutup
- Hi clutch (disc-plate) aus berlebihan
- Seal piston Hi clutch bocor berlebihan. dsb
15. Unit hanya bisa berjalan pada tingkat kecepatan 5th - 8th saja
Pada dasarnya disebabkan clutch Lo tidak dapat engaged, yang dapat dikarenakan :
- Solenoid valve Lo clutch, putus atau jammed tertutup
- Lo clutch (disc-plate) aus berlebihan
- Seal piston Lo clutch bocor berlebihan. dsb
16. Unit tidak bisa bergerak di semua tingkat kecepatan
- Internal leakage transmission terlalu besar, sehingga tidak mampu menghasilkan flow discharge yang digunakan untuk mengengagedkan clutch.
- Main relief valve abnormal, spring patah, atau spool jammed terbuka
- Inching valve jammed tertuka, sehingga flow discharge kembali langsung ke tank. dsb


17. Unit tidak bisa bergerak di salah satu tingkat kecepatan
- Misadjustment rotary switch atau potentiometer speed lever control.
18. Inching tidak berfungsi
- Misadjusment mekanisme linkage & rod inching system
- Misadjustment potentiometer inching validation
- Inchaing modualtion valve jammed tertutup. dsb
19. Diff lock tidak berfungsi
- Internal leakage diff-lock pump terlalu besar
- Relief valve diff-lock system terlalu rendah, atau springnya putus
- Seal piston clutch diff-lock bocor atau keausan clutch diff-lock terlalu berlebihan. dsb
20. Tire run out besar
- Keausan axle (wheel) bearing terlalu besar.
- Misadjustment axle bearing, preload terlalu kecil.
21. Toe-in dari wheel besar
- Misadjustment tie-rod
- Ball joint tie-rod aus berlebihan
22. Suara tidak normal dari pompa
- Terdapat angin yang terjebak dalam pump, karena bleeding yang kurang sempurna.
- Keausan abnormal pada inner component pump
23. Oli hidrolik overheat (saat work equipment tidak dioperasikan)
- Sudut main masih besar, karena keabnormalan pada system control pump, sehingga flow discharge pump masih besar, sedangkan system yang digunakan adalah CLSS, akibatnya terjadi back pressure yang besar.
24. Work equipment tidak berfungsi saat control lever dioperasikan
- Pressure compensating valve jammed tertutup
- Misadjustment linkage & rod, sehingga spool C/V tetap diam meskipun lever digerakkan.
- Keausan berlebihan pada linkage & rod, sehingga spool C/V tetap netral saat lever digerakkan
25. Work equipment lambat, low power
- Internal leakage pump terlalu besar
- Main relief valve jammed terbuka
- Priority flow devider valve jammed pada posisi memprioritaskan oli menuju circuit steering. dsb
26. Hydraulic drift work equipment besar
- Internal leakage pada spool control valve terlalu besar
- Internal leakage work equipment cylinder terlalu besar.
27. Steering wheel tidak bisa diputar (saat work equipment netral)
- Steering valve jammed pada inner partnya
- Priority flow devider valve jammed pada posisi mengarahkan oli menuju circuit work equipment.
28. Turning speed lambat, low power
- Adjustment steering relief valve terlalu rendah
- Priority flow devider valve jammed pada posisi mengarahkan oli menuju circuit work equipment
29. Feeling saat steering wheel dioperasikan terasa aneh
(kadang berat atau ringan, ada kickback, terasa berat sekali)
- Keausan abnormal pada inner part steering valve
- Cylinder steering bengkok, sehingga pergerakannya tersendat, dan pressure yang terjadi cenderung tidak stabil.
- Ball joint Tie-rod aus berlebihan, sehingga steering pressure terjadi mengejut.

30. Brake performance tidak standart
- Air pressure drop, brake valve abnormal sehingga output pressurenya terlalu rendah
- Brake clutch aus berlebihan
- Seal piston brake clutch bocor
31. Parking brake tidak berfungsi
- Misadjustment parking brake pads clearance
- Terdapat grease atau oli pada kontak brake pads & disc sehingga mengurangi braking force
- Solenoid valve parking brake jammed terbuka, sehingga selalu mengalirkan pressure angin menuju parking brake chamber, sehingga release.
32. Parking brake tidak bisa release
- Solenoid valve parking brake rusak, tidak bisa membuka untuk mengalirkan menuju parking chamber brake.
- Seal piston parking chamber brake bocor
- Adjustment parking brake pads terlalu rapat, sehingga jammed.
32. Brake overheat
- Brake terlalu sering dioperasikan saat unit kecepatan tinggi.
- Oli tandem low level, sehingga efek pendinginan brake clutch kurang

Peserta :
1. Eko AP ()
2. Supriyono
3. Hendra
4. Alex
5. Hendro


(Note : Gunakan hanya sebagai wacana pembelajaran * tetap gunakan referensi yang lain,: Shop manual, OMM, dsb. Keepsmile langdaddy )

3 komentar:

  1. Pagi mas Gita, saya ada kejadian Dump Truck yang transmisi nya pecah, mau tanya apa penyebabnya transmisi bisa pecah, mohon saran dan penyebabnya, terima kasih.

    Salam,
    Andi

    BalasHapus
  2. salam knal mas.. skalian blog walking..

    BalasHapus
  3. i recommend this blog to my friendsaxlewheel

    BalasHapus

Pengikut